GPTD=grup_pengkaji_tamadun_dunia | AIS=aktivisme+intelektualisme+spiritualisme | 3M=menjejak.meneladani.memimpin
Tuesday, May 15, 2012
Malam Pengenalan GPTD Unisel
Monday, November 22, 2010
Dakwah di Lereng Merapi
rof. Dr. Hamka pernah menulis sebuah artikel menarik berjudul “Islam dan Majapahit”, yang dimuat dalam buku Dari Perbendaharaan Lama (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982). Bagi pengkaji sejarah Islam di Indonesia, artikel Hamka ini teramat sayang untuk dilewatkan. Hamka memulai artikelnya dengan ungkapan pembuka:“Meskipun telah hidup di zaman baru dan penyelidik sejarah sudah lebih luas dari pada dahulu, masih banyak orang yang mencoba memutar balikkan sejarah. Satu di antara pemutarbalikkan itu ialah dakwah setengah orang yang lebih tebal rasa Hindunya daripada Islamnya, berkata bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam. Padahal bukanlah begitu kejadiannya. Malahan sebaliknya.”
Hamka menjelaskan, bahwa Kerajaan Majapahit pada zaman kebesarannya, terutama semasa dalam kendali Patih Gajah Mada, memang adalah sebuah kerajaan Hindu yang besar di Indonesia, dan pernah mengadakan ekspansi, serangan dan tekanan atas pulau-pulau Indonesia yang lain. Dalam kitab “Negarakertagama” disebutkan daftar negeri taklukkan Majapahit. Berbagai Kerajaan, baik Hindu, Budha, maupun Kerajaan Islam ditaklukkan.
Kerajaan Islam Pasai dan Terengganu pun dihancurkan oleh Majapahit. Pasai tidak pernah bangkit lagi sebagai sebuah kerajaan. Tapi, Pasai kaya dengan para ulama. Di dalam sejarah Melayu, Tun Sri Lanang menulis, bahwa setelah Kerajaan Malaka naik dan maju, senantiasa juga ahli-ahli agama di Malaka menanyakan hukum-hukum Islam yang sulit ke Pasai. Dan jika ada orang-orang besar Pasai datang ziarah ke Malaka, mereka disambut juga oleh Sultan-sultan di Malaka dengan serba kebesaran.
Menurut Hamka, jika Pasai ditaklukkan dengan senjata, maka para ulama Pasai kemudian datang ke Tanah Jawa dengan dakwah, dengan keteguhan cita-cita dan ideologi. Para ulama datang ke Gresik sambil berniaga dan berdakwah. Terdapatlah nama-nama Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ibrahim Asmoro, atau Jumadil Kubro, ayah dari Maulana Ishak yang berputera Sunan Giri (Raden Paku) dan Sunan Ngampel (Makhdum Ibrahim).
“Dengan sabar dan mempunyai rancangan yang teratur, guru-guru Islam berdarah Arab-Persia-Aceh, itu menyebarkan agamanya di Jawa Timur, sampai Giri menjadi pusat penyiaran Islam, bukan saja untuk tanah Jawa, bahkan sampai ke Maluku. Sampai akhirnya Sunan Bonang (Raden Rahmat) dapat mengambil Raden Patah, putra Raja Majapahit yang terakhir (Brawijaya) dikawinkan dengan cucunya, dan akhirnya dijadikan Raja Islam yang pertama di Demak,” tulis Hamka.
Tindakan para wali dalam penyebaran Islam di Jawa itu tidak dapat dicela oleh raja-raja Majapahit. Bahkan, kekuasaan dan kewibawaan mereka di tengah masyarakat semakin meluas. Ada wali yang diangkat sebagai adipati Kerajaan Majapahit. Hamka menolak keras pandangan yang menyatakan, bahwa Majapahit runtuh karena diserang Islam. Itu adalah pemutarbalikan sejarah yang sengaja disebarkan oleh orientalis seperti Snouck Hourgronje. Upaya ini dilakukan untuk menjauhkan bangsa Indonesia agar tidak menjadikan Islam sebagai basis semangat kebangsaan. “Maksud ini berhasil,” papar Hamka.
Akibatnya, dalam pentas sejarah nasional Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah, nama Sunan Ampel dan Sunan Giri tenggelam oleh nama Gajah Mada. Nama Raden Patah dan Pati Unus yang mencoba mengusir penjajah Portugis dari Malaka tenggelam oleh nama Raja Airlangga. Upaya sistematis untuk memecah belah bangsa Indonesia yang mayoritasnya Muslim dilakukan dengan berbagai cara oleh penjajah Belanda. Salah satunya dengan menjauhkan Islam dari semangat kebangsaan Indonesia. Seolah-olah Indonesia adalah kelanjutan Kerajaan Majapahit.
Simaklah paparan Hamka selanjutnya berikut ini:
“Marilah kita jadikan saja segala kejadian itu, menjadi kekayaan sejarah kita, dan jangan dicoba memutar balik keadaan, agar kokohkan kesatuan bangsa Indonesia, di bawah lambaian Merah Putih!
Kalau tuan membusungkan dada menyebut Gajah Mada, maka orang di Sriwijaya akan berkata bahwa yang mendirikan Candi Borobudur itu ialah seorang Raja Budha dari Sumatra yang pernah menduduki pulau Jawa.
Kalau tuan membanggakan Majapahit, maka orang Melayu akan membuka Sitambo lamanyab pula, menyatakan bahwa Hang Tuah pernah mengamuk dalam kraton sang Prabu Majapahit dan tidak ada kstaria Jawa yang berani menangkapnya.
Memang, di zaman jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.
Tahukan tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Diponegoro, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan disana beliau berkubur buat selama-lamanya?
Maka dengan memakai paham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana.”
Peringatan Hamka, ulama terkenal, ini kiranya sangat patut dicamkan! Upaya sebagian kalangan, baik LSM dalam dan luar negeri maupun sebagian unsur pemerintah untuk menjauhkan Islam dari masyarakat – dengan cara membangkitkan kembali tradisi-tradisi pra-Islam atau menanamkan paham sekularisme – sejatinya akan membawa Indonesia ke jurang bencana.
Fenomana ini menunjukkan, bahwa tantangan dakwah Islam di Tanah Jawa sejatinya masih belum berubah. Jika Wali Songo dan para pendakwah Islam lainnya di Tanah Jawa telah memulai langkah-langkah yang spektakuler, mengubah agama penduduk mayoritas negeri ini menjadi Muslim, maka kaum Muslim selanjutnya berkewajiban melanjutkannya. Dalam buku terkenalnya, Fiqhud Da’wah, M. Natsir menegaskan, bahwa dakwah adalah kewajiban setiap muslim. “Tidak boleh seorang Muslim dan Muslimah menghindarkan diri dari padanya.”
*****
Semangat dakwah yang membara dari generasi awal Islam dan generasi-generasi sesudahnya itulah yang kemudian – dengan izin Allah – mampu menghantarkan Islam menjadi agama yang dipeluk di berbagai pesolok bumi. Sejumlah catatan menunjukkan, bahwa sejak abad ke-7 Masehi, sejumlah pendakwah Islam sudah mulai menginjakkan kakinya di bumi Nusantara. Dakwah berupa pengislaman suatu masyarakat kadangkala memerlukan proses yang sangat panjang, bisa sampai ratusan tahun, yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jurnal Islamia-Republika edisi 18 November 2010 mengangkat tema tentang dakwah Islam dan tantangan Kristenisasi serta Nativisasi di sekitar Lereng Merapi. Sejumlah artikel yang ditulis para alumni Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Program Magister Pemikiran Islam –Universitas Muhammadiyah Surakarta menguraikan sejarah panjang perjalanan dakwah di lereng salah satu gunung berapi teraktif di dunia tersebut.
Menarik misalnya menyimak kisah “Mbah Petruk”, yang namanya sempat popular di Indonesia menyusul bencana Merapi di tahun 2010 ini. Mbah Petruk makin populer setelah seorang warga memotret asap solvatara Gunung Merapi yang menyerupai kepala Petruk. Karena hidung Petruk mengarah ke Yogya, maka ada paranormal yang menyatakan, bahwa bencana akan mengarah ke Yogya. Selama ini di sebagian kalangan, mitos Mbah Petruk sering dikaitkan dengan pemuka jin dan tanda-tanda bencana Merapi.
Hasil penelitian Susiyanto, peneliti INSISTS bidang sejarah Islam dan Jawa, terhadap tradisi lisan di salah satu kawasan lereng Merapi, menunjukkan, bahwa nama asli Mbah Petruk sebenarnya adalah Kyai Handoko Kusumo. Nama ini dikenal sebagai penyebar Islam di kawasan lereng Merapi pada era 1700-an. Kyai Handoko Kusumo adalah seorang keturunan Arab, berhidung mancung. Karena soal hidung mancung itulah, sosoknya dikaitkan dengan tokoh punakawan dalam pewayangan bernama Petruk yang mempunyai ciri khas hidung panjang. Di duga, Mbah Petruk yang ini adalah murid generasi kedua dari Sunan Kalijaga. Pada masa tuanya, Mbah Petruk diperkirakan meninggal di Gunung Bibi dan jasadnya tidak pernah diketahui. Hal inilah yang memunculkan anggapan spekulatif bahwa dirinya telah moksa.
Sejumlah penelitian menunjukkan, sampai tahun 1700-an, penduduk daerah di sekitar Merapi masih menganut Agama Hindu dan berbagai bentuk kepercayaan kuno. Pada era Perang Diponegoro (1825-1830), Kyai Mojo, ulama dan penasihat spiritual Pangeran Diponegoro telah memobilisasi pasukan yang berasal dari lereng Merapi. Hal ini menunjukkan bahwa proses Islamisasi di kawasan ini telah berjalan beberapa tahun sebelumnya.
Dakwah di masa itu menghadapi tantangan yang sangat berat. Berbagai ritual kuno yang dijalankan sebagian penduduk sangat jauh dari nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Misalnya, adanya ritual pengorbanan manusia, dengan menyembelih atau melemparkannya ke kawah Merapi, sebagai persembahan kepada “dewa” agar bencana tidak terjadi. Hasil penelitian Muhammad Isa Anshory, alumnus Program Magister Pemikiran Islam UMS tentang ritual-ritual kuno di sekitar Lereng Merapi mencontohkan ritual aliran Bhairawa Tantra.
Aliran ini punya percaya bahwa cara menghentikan godaan hawa nafsu adalah dengan cara memperturutkan hawa nafsu itu sendiri. Sebab bila manusia terpuaskan nafsunya, maka jiwanya akan menjadi merdeka. Bhairawa Tantra muncul kurang lebih pada abad ke-6 M di Benggala sebelah Timur. Dari sini, lalu tersebar ke Utara melalui Tibet, Mongolia, masuk ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah Timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selain di Jawa, sekte ini juga menyebar di Sumatra serta berangsur-angsur bersatu dengan tenung dan kepercayaan pada kanibalisme. Seorang raja terkenal dari kerajaan Melayu kuno, diceritakan menerima pelantikannya di tengah-tengah lapangan bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah, dan menghadap korban manusia yang menebarkan bau busuk. Akan tetapi, semua ini bagi Adityawarman sangat semerbak baunya.
Bentuk ritual Bhairawa Tantra meliputi apa yang dikenal dengan sebutan ma-lima atau pancamakara. Ritual Ma-lima tersebut terdiri dari matsiya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman keras), mudra (ekstase melalui tarian yang terkadang bersifat erotis atau melibatkan makhluk halus hingga “kerasukan”), dan maithuna (seks bebas). Dalam bentuk yang paling esoterik, pemujaan yang bersifat Tantrik memang memerlukan persembahan berupa manusia. Ritualnya meliputi persembahan berupa meminum darah manusia dan memakan dagingnya. Ada juga ritual seks bebas dan minum minuman keras yang dilakukan ditempat peribadatan berupa lapangan (padang) bernama Lemah Citra atau Setra. Ritual tersebut dilakukan untuk mendapatkan cakti. Oleh karena itu aliran ini juga sering disebut sebagai saktiisme. Pada era selanjutnya dapat dijumpai sisa-sisanya dalam apa yang disebut dengan istilah kasekten.
Praktik mistik yang lain yang masih eksis di lereng Merapi adalah ritual telanjang yang dilakukan di Candi Lumbung pada setiap awal bulan Suro. Ritus ini dilakukan tengah malam selepas pukul 00.00 WIB dengan bertelanjang bulat mengelilingi Candi Lumbung sambil membaca mantra-mantra khusus di bawah panduan seorang pemimpin upacara. (Majalah Liberty, 11-20/1/2008).
Ritual ini juga masih memiliki kemiripan sebagai sisa ritual Bhairawa Tantra. Di daerah sekitar Merapi, bekas-bekas setra (tempat pengorbanan manusia dan area persetubuhan masal dalam ritus Bhairawa) yang lain juga dapat ditemukan. Sampai sekitar tahun 2006, tempat pemujaan berupa Setra masih dapat ditemui di Bon Bimo. Namun di tempat petilasan itu saat ini telah didirikan sebuah masjid oleh masyarakat setempat. Konon, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, saat tempat itu hendak didirikan masjid, batu yang menjadi “altar” penyembelihan gadis perawan di Bon Bimo itu mengeluarkan suara tangisan di malam hari. Banyak penduduk sekitar bisa mendengarnya. Namun masyarakat setempat kini telah memilih Islam dan sebuah masjid berdiri atas kehendak warga desa di tempat itu.
Tradisi ritual semacam ini tentu saja sudah ditinggalkan masyarakat sekitar lereng Merapi. Sebagian besar mereka kini memeluk agama Islam. Bahkan, tradisi-tradisi sesudahnya, seperti penanaman kepala kerbau juga berangsur ditinggalkan. Islam telah mengubah persepsi mereka tentang makna ibadah dan “kurban”. Inilah salah satu bukti bahwa dakwah Islam terus berjalan, perlahan-lahan mengubah tradisi masyarakat sekitar Lereng Merapi.
Tentu saja, dakwah harus tetap wajib dijalankan dan dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya. Apalagi, kini tantangan dakwah di sekitar lereng Merapi menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu gerakan Kristenisasi dan Nativisasi. Jika kita berkeliling di sejumlah daerah Lereng Merapi, akan dengan mudah mendapati berbagai pusat gerakan Kristenisasi.
Gerakan nativisasi kini dilakukan juga dengan massif melalui berbagai cara. Tradisi-tradisi ritual kuno yang bertentangan dengan ajaran Islam, sengaja dimunculkan kembali bahkan dipromosikan yang kadangkala bermotifkan promosi wisata. Hal-hal yang jelas merupakan perbuatan syirik dikatakan oleh sebagian orang sebagai bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang harus dilestarikan. Jika tradisi menanam atau melarung kepala kerbau dikatakan sebagai bentuk kearifan lokal, mestinya praktik persembahan manusia ke kawah Merapi atau praktik ritual telanjang juga bisa dimasukkan dalam daftar kearifan lokal.
Tentu kita berharap para ulama, tokoh masyarakat, dan pejabat yang Muslim lebih mengedepankan cara pandang Islami, dalam menentukan mana tradisi yang perlu dilestarikan dan mana yang tidak. Sebab, akhirnya hanya kepada Allah juga kita akan bertanggung jawab atas amal-amal kita. [Depok, 19 November 2010/hidayatullah.com]
Wednesday, October 13, 2010
Wacana Tokoh : Cheng Ho & Wali Songo
Bestari Jaya , 25 September / 16 Syawal - GPTD UNISEL dengan jayanya telah menganjurkan Wacana Tokoh : Cheng Ho dan Wali Songo dengan pengisian disampaikan oleh Saudara Muhammad Suhail Ahmad, Presiden GPTD dan Saudara Mohd Akmal Md Noor, mentor Grup Wali Songo.

Saudara Lee Shi Wei, Pengarah program tersebut berpuas hati dengan kesungguhan peserta yang hadir pada waktu itu kerana partispasi aktif peserta dalam sesi perbincangan dan persembahan sajak dan multimedia yang diselang seli dengan pembentangan tokoh berjalan lancar.
Program wacana ini tidaklah bertujuan mengupas sejarah kedua-dua tokoh terbabit tetapi mencetuskan semangat kembara bagi meneliti kejayaan mereka. Cetusan dibuat secara percambahan idea yang terbit daripada coretan sejarah lalu dikaitkan dengan situasi hari ini.
Rata-rata peserta kelihatan cukup bersemangat untuk meneladani tokoh-tokoh terbabit yang terbukti kejayaan mereka. Pendekatan GPTD yang mengajak para peserta menjejaki tokoh-tokoh ini untuk diteladani bagi melahirkan kepimpinan berwibawa dilihat mendapat sambutan baik. Adalah diharapkan kesungguhan peserta yang hadir akan berterusan selamanya.Thursday, October 7, 2010
Hikmah Berdakwah Wali Songo
Pendahuluan
Berdakwah dalam ertikata mengajak manusia ke jalan Allah merupakan tugas yang paling mulia dalam Islam. Allah menegaskan dalam al-Qur`an, surah Fussilat; 33 yang bermaksud, Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal soleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang yang menyerah diri!”. Islam mewajibkan umatnya supaya menyuruh kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar sebagaimana ditegaskan al-Qur`an dalam surah Ali ‘Imran; 104 dan 110. Seluruh para nabi yang mursal mengungguli tugas dan amanah ini dalam penyampaian risalah perjuangan mereka, begitu juga amanah ini diteruskan oleh para sahabat, tabiin, ulama, syuhada dan solehin hingga ke akhir zaman. Oleh kerana amanah dakwah ini adalah amalan yang ditaklifkan, mulia dan mendapat ganjaran yang besar, maka ia memerlukan persiapan yang rapi dari sudut keilmuan yang menyeluruh, keimanan yang mendalam, kepimpinan yang adil dan amanah, pendekatan yang penuh hikmah, mengenali sasaran dakwah dan sebagainya.
Kepentingan hikmah dalam berdakwah
Islam menggesa para da`iy supaya mengutamakan pendekatan yang bijaksana dalam penyampaian ajaran Islam sepertimana ditegaskan dalam surah an-Nahl; 125 yang bermaksud “serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat daripada jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk.”
Hikmah dalam erti mengenal golongan atau sasaran dakwah, apakah ia golongan cerdik pandai atau awam ataupun golongan yang berada antara keduanya. Berpandukan Hadis dan pandangan Syeukh Muhammad Abduh, Pak Natsir mengulas bahawa golongan pertama dihadapi dengan pendekatan hikmah, golongan awam melalui mauizah al-hasanah dan golongan ketiga dihadapi dengan mujadal billati hiya ahsan, sesuai dengan Hadis Nabi (SAW) Khatibun-nas ‘ala qadri ‘uqulihim) (Natsir, 1978; 180). Hikmah juga diberi takrif berbagai-bagai antaranya ialah memahamkan rahsia dan faedah tiap-tiap sesuatu perkara. Ada juga yang mengkelaskan hikmah sebagai ilmu yang sohih yang menggerakkan kemahuan untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bermanfaat. Muhammad Abduh menyampaikan bahawa orang yang bijak ialah seorang yang benar-benar faham tentang selok belok teknik mengerjakan sesuatu dan dia mahir dalam bidang tersebut (ibid).
Peranan Wali Songo dalam berdakwah
Agama Islam telah masuk ke Tanah Jawa pada abad ke-8 masihi lagi, namun disebabkan keutuhan pegangan masyarakat Jawa terhadap animisme, Hindu dan Buddha, agama baru yang dibawa oleh pendakwah dari Dawlah Abbasiyah tidak berjaya menarik minat masyarakat. Keadaan ini berlarutan sehinggalah Sultan Mahmud 1 dari Turki mengutuskan satu pasukan dakwah Islam ke Jawa yang ketika itu pemerintahan Majapahit menghadapi kemelut perang saudara pada tahun 1401-1406. Pasukan pendakwah yang terdiri daripada sembilan orang itu dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim. Mereka ini telah berjaya menghidupkan kebekuan penyebaran Islam yang telah berlangsung selama tujuh abad sebelum itu (Hasan Simon, 2204: xxii). Setelah dakwah Islam drintis oleh wali Songo, perkembangan Islam berlaku dengan cepat dan sampai ke zaman kemuncak sekitar abad ke-15 hingga ke-17 hasil daripada sumbangan para wali berkenaan (Musyrifah, 2007:26)
Peranan Wali Songo dalam mengembangkan Islam di Tanah Jawa amatlah besar. Mereka banyak berjasa memimpin pengembangan Islam di seluruh Jawa dan kepulauan Indonesia. Justeru kerana jasa dan peranan mereka itu mereka diberi gelaran wali kepada mereka (Ridin Sofwan, 2000:231)
Perkataan wali berasal daripada kalimah Arab wali ; singkatan daripada Waliyullah (Qur`an, Yunus:62-64) yang bermaksud orang yang mengasihi dan dikasihi oleh Allah kerana jiwa mereka sentiasa dekat dengan Allah (lihat, HR Bukhari). Manakala istilah songo berasal daripada bahasa Jawa bermaksud sembilan (Ridin Sofwan, 2000:7). Songo juga dikatakan berasal daripada bahasa Arab tsana bermaksud terpuji dan angka sembilan dianggap angka yang mempunyai nilai mistik dalam masyarakat Jawa. Pendapat lain mengatakan kata songo berasal daripada kata sangha -istilah Budha yang bererti perkumpulan atau jamaah. Maka wali sanga bererti perkumpulan atau jamaah wali (Feby Nurhayati, 2007:39).
Berdasarkan penggunaan istilah sanga, harus difahami bahawa wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa tidak hanya terdiri daripada sembilan orang, malah kehadiran wali songo itu merupakan satu himpunan atau kesatuan para mubaligh yang menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Terdapat penulis yang membahagikan wali songo kepada tujuh angkatan, selain itu, keanggotaannya juga tidak kekal iaitu apabila salah seorang wali songo meninggal dunia tempatnya akan diganti oleh wali yang lain agar jumlah dan namanya kekal sembilan. Misalnya, setelah Maulana Malik Ibrahim meninggal dunia pada tahun 1419, maka pada tahun 1421 tempatnya digantik oleh Ahmad Ali Rahmatullah yang lebih dikenali sebagai Raden Rahmat.
Wali Songo berdakwah secara berjamaah, organisasi mereka tersusun rapi dan menggambarkan suatu bentuk kerjasama yang baik di antara sesama pendakwah. Setiap anggota dalam organisasi mempunyai tugas masing-masing demi menjamin keutuhan dan kesatuan. Misalnya Sunan Ampel bertindak sebagai guru ketua, Sunan Giri sebagi ketua jaksa, Sunan Ngudung dan Sunan Kudus sebagai panglima, Sunan Kalijaga sebgai diplomat (Radin Sofwan, 255). Organisasi yang sistematik dan tersusun rapi seperti bunyan marsus yang telah membawa kejayaan kepada dakwah wali songo di Tanah Jawa.
Tokoh-tokoh Wali Songo yang terkenal adalah seramai sembilan orang terdiri daripada Maulana Malik Ibrahim (w.12 Rabiulawal 882H/9 April 1419), Sunan Ampel @ Raden Rahmat (1401M-1481), Sunan Giri (w.1506), Sunan Bonang (w 1525), Sunan Drajat , Sunan Kalijaga (1440), Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati (w. 1570) (Feby Nurhayati, 2007: 49-95)
Sumbangan Wali Songo
Sumbangan Wali Songo dalam pengembangan ajaran Islam di Tanah Jawa dan kepulauan Indonesia memang tidak dapat dinafikan lagi. Begitu juga, sumbangan mereka terhadap masyarakat di Tanah Jawa meliputi pelbagai bidang kehidupan termasuklah pembinaan masjid, politik dan ketenteraan, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan dan kebudayaan Islam.
1.Pembinaan masjid
Dakwah Rasulullah (SAW) di Madinah bermula dengan pembinaan masjid Quba’. Wali Songo mengikuti jejak langkah baginda dalam berdakwah dan pembinaan masyarakat Islam di Tanah Jawa. Sumbangan utama Wali Songo terhadap perkembangan Islam di Jawa ialah pembinaan masjid dan langgar (surau) di lokasi dakwah masing-masing. Misalnya, Sunan Ampel membina masjid di Kuning ketika dalam perjalanan ke Ampel Denta. Sunan Kudus membina masjid Kudus (1549), Masjid Demak dibina seiring dengan penubuhan Demak Bintara sebagai kerajaan Islam. Pembinaan masjid oleh Wali Songo adalah amat penting memandangkan masjid bukan sahaja tempat solat dan penyebaran ilmu pengetahuan tetapi ia juga sebagai tempat untuk membahaskan hal-hal yang berkaitan dengan politik, sosial, kebudayaan dan kehidupan.
2. Politik dan ketenteraan
Para sufi tidak memisahkan diri daripada urusan kenegaraan, mereka sememangnya mempunyai kecekapan politik yang tinggi dan memiliki pengetahuan tentang kenegaraan yang jelas. Kalau mereka tidak bersifat demikian bagaimana mereka dapat melumpuhkan kerajaan Majapahit tanpa mengorbankan nyawa dan memusnahkan sistem masyarakat pada tahun 1518M (Hasanu Simon, 2004: 140).
Penubuhan kerajaan Demak Bintara adalah satu lagi bukti penglibatan mereka dalam politik, Demak adalah kerajaan Islam yang pertama di Jawa. Kemunculan Demak adalah hasil kegigihan Sunan Ampel dengan mendapat bantuan daripada Sunan Giri, Kalijaga dan Bonang. Raden Fatah dilantik menjadi sultan Demak yang pertama. Melalui kerajaan Demak, mereka menyusun kekuatan dakwah dan ketenteraan sehingga dapat menakluki kerajaan Hindu di Jawa seperti menewaskan Majapahit.
Sunan Kudus adalah panglima perang yang berjaya menewaskan kerajaan Majapahit melalui strategi serangan tiga arah iaitu Surabaya, Tuban dan Madiun. Sunan Giri juga banyak memberi sumbangan dalam pembentukan kerajaan Demak, ketokohan beliau dapat dibuktikan apabila beliau mendapat gelaran Sultan Fakih walaupun beliau bukanlah seorang sultan atau raja, malah setiap perlantikan sultan harus mendapat persetujuan daripada beliau terlebih dahulu.
Sumbangan dalam bidang ketenteraan pula ialah kejayaan Sunan Gunung jati menentang penjajahan Portugis, beliau berjaya membebaskan Jakarta dan daerah sekitarnya daripada cengkaman Portugis pada tahun 1527M. Portugis tidak berjaya untuk menjadikan Sunda Kelapa sebagai pengkalan kerana Sunan Jati terlebih dahulu menakluki kawasan tersebut dan pelabuhan di wilayah Pajajaran seperti Cirebon dan Banten. Kedua-duanya mempunyai potensi dalam bidang ekonomi terutama lada. Jawa Barat yang ditawan ditukar nama menjadi Jayakarta (Jakarta) yang bererti kota kemenangan bersesuian dengan gelaran Fatahillah yang diberikan kepada Sunan Gunung Jati kerana kejayaan beliau menumpaskan Portugis (Abdul Halim, 1993: 98).
3. Ekonomi
Sumbangan mereka dalam bidang ekonomi dapat dibuktikan melalui tindakan Maulana Malik Ibrahim menyempurnakan kehidupan di Leran dengan memelihara sawah dan kebun secara cermat dan baik. Di samping meningkat taraf ekonomi penduduk, beliau menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan seperti galakan memberi sadakah kepada fakir miskin.
Maulana Malik Ibrahim memperkenalkan sistem pengairan untuk pertanian bagi memajukan kota Gresik (Hasanu Simon, 2004: 167). Hasilnya kawasan pertanian berjaya dimajukan. Sunan Drajat berjaya meningkatkan prasarana pengangkutan dan pembangunan perumahan. Manakala Sunang Gunung Jati pula menggalakkan penduduk menerokai hutan sebagai tempat kediaman dan pemanfaatan hasil bumi. Sunan Kalijaga turut menghasilkan karya mengenai pertanian seperti filsafat bajak dan cangkul (Ridin Sofwan, 2000;279). Raden Fatah pula memberi sumbangan dalam pentadbiran ekonomi kerajaan Demak, Demak menjadi pelabuhan perdagangan penting dan mencapai kemajuan yang pesat, hasil mahsulnya diekspot ke Melaka.
4. Kemasyarakatan
Kedatangan Islam telah membawa perubahan terhadap sistem sosial masyarakat Jawa yang mengamalkan sistem kasta. Pendakwahan Islam di Jawa telah berjaya menghapuskan sistem berkenaan tanpa menggunakan kuat kuasa undang-undang tetapi melalui pengaruh pendidikan Islam. Sunan Ampel misalnya berjaya menjadikan pusat pendidikan di Ampel Denta sebagai pusat pengajian bagi semua lapisan masyarakat. Sunan Ampel juga telah berjaya melakukan islah ijtima`iy dengan memperkenalkan slogan mo-limo atau emoh-limo yang masih terkenal hingga kini. Slogan itu dalam bentuk larangan melakukakan main (berjudi), minum (minuman keras), maling (mencuri), madat (menghisap candu) dan madon (berzina) (Hasanu, 2004; 197).Mo limo diperkenalkan kerana kerajaan Majapahit mengalami kemunduran mendadak kerana sikap bangsawan dan pangeran suka berpesta, berjudi dan mabuk. Sementara itu, agama Hindu dan Buddha gagal mengatasinya, akhirnya Sunan Ampel berjaya mengatasinya dengan beberapa langkah yang berkesan seperti membangunkan masjid, mendirikan pesantren untuk mendidik para bangsawan dan pangeran dan memperkenalkan falsafah Mo Limo.
Sunan Kalijaga pula membantu mewujudkan perhubungan yang harmonis antara pemerintah dan rakyat iaitu melalui slogan Sabdo Pandito Ratu. Slogan ini membawa maksud kebijaksanaan penguasa harus sejalan dengan nasihat para ulama.Tindakan beliau berjaya mewujudkan hubungan yang serasi antara pemerintah, ulama dan rakyat. Ia diperkukuhkan lagi apabila masjid dibina berhampiran dengan istana atau kabupaten (Arman, Arrosi, 1994: 23). Selain itu, terdapat kalangan wali yang berketurunan bangsawan seperti Sunan Giri, Bonang, Kalijaga dan Gunung Jati. Mereka berjaya menarik minat ramai bangsawan Jawa memeluk Islam dan seterusnya mereka yang diislamkan itu berusaha menyebarkan Islam di kota-kota pelabuhan sehingga ke pendalaman. Hasil dakwah Sunan Giri menyebabkan lahir ramai para ulama dn mubaligh terdiri daripada petani, nelayan dan pedagang.
5. Pendidikan dan ilmu pengetahuan
Maulana Malik Ibrahim adalah orang yang pertama memperkenalkan pesantren di Gresik dan melalui pesantren ini lahir mubaligh Islam yang menyebarkan Islam ke seluruh pelusuk Jawa. Sunan Ampel pula berjaya mendidik ulama melalui pembinaan Ampel Denta. Sunan Bonang dan Syekh Siti Jenar memperkembangkan ajaran tasawuf, Sunan Bonang menghasilkan karya Suluk Sunan Bonang. Manakala Sunan Giri memperkenalkan permainan kanak-kanak yang bermotifkan pendidikan seperti Jelungan, Jamuran, Ilir-il irGendi Gerit dan Gula Ganti. Misalnya, Ilir-ilir merupakan lagu yang mendidik seorang supaya optimis dalam melakukan amal kebaikan agar amal diterima dan harus ambil kesempatan beramal semasa hayat masih ada. Sunan Giri juga menghasilkan karya ilmu falak yang disesuaikan dengan prinsip falak Islam, selain itu, beliau memperkenalkan penggunaan kertas sebagai bahan penulisan yang kemudiannya membawa kepada perkembangan ilmu dan budaya (Ridin Sofwan, 2000;275-6).
6. Kebudayaan dan kesenian
Sunan Kalijaga, Bonang, Kudus dan Muria dikategorikan sebagai wali abangan atau merahan iaitu wali yang ingin memasukkan ajaran Islam ke dalam tradisi dan kesenian Jawa sebaliknya wali putihan menekan ajaran Islam semata-mata tanpa mahu berkompromi dengan kesenian dan kebudayaan Jawa (Hasanu Simon, 2004: 135). Sunan Kalijaga menggunakan seni wayang sebagai salah satu strategi dakwah kerana tradisi wayang telah berkembang berabad-abad pada zaman kerajaan Majapahit. Pada zaman itu, Seni wayang lebih dikenali dengan nama pementasan wayang beber iaitu wayang yang bentuknya dibentang (dipaparkan). Sunan Kalijaga mencadangkan wayang beber dipersembahkan ketika majlis perasmian Masjid Agung Demak agar dapat menarik orang ramai terutama masyarakat beragama Hindu. Namun demikian, Sunan Giri selaku ketua Wali Songo ketika itu membantah kerana wayang bergambar manusia suatu yang haram dalam syariat Islam. Maka Sunan Kalijaga membuat perubahan bentuk manusia kepada bentuk yang mirip karikator seperti yang ada pada hari ini. Perubahan yang kreatif ini adalah sumbangan besar Sunan Kalijaga dalam bidang ini.
Sementara itu, Sunan Bonang pula mahir dalam penggunaan alat muzik bonang. Ini adalah kerana kebanyakan masyarakat di Tuban amat menggemari lagu-lagu gending gamelan, maka beliau menggunakan kesenian rakyat tersebut. Kepandaian beliau membunyikan alat muzik tersebut diiringi tembang-tembang yang berupa pantun keagamaan berjaya mempengaruhi masyarakat Tuban mempelajari lagu tembang dan akhirnya mempelajari agama Islam. Salah satu tembang yang terkenal bertajuk Tombo Ati. Manakala Sunan Drajat mencipta tembang Pangkur dan Miji 1. Oleh itu, para wali menggunakan bidang kesenian sebagai kaedah berdakwah yang berkesan di samping ia memberi sumbangan kepada pengkayaan kesenian tradisi Jawa.
Pendekatan penyesuaian terhadap kebudayaan Jawa menyebabkan sesetengah unsur Hindu masih kekal seperti adat yang menggunakan mentera, ia tidak dihapuskan tetapi diganti bacaan al-Qur`an, tahlil dan doa. Misalnya dalam upacara berkabung, Sunan Bonang menggantikan adat menyajikan makanan untuk arwah mendiang dengan amalan sedekah iaitu memberi makanan kepada fakir miskin.
Sunan Kalijaga memberi sumbangan dalam bidang busana iaitu mencipta model baju takwa yang akhirnya menjadi pakaian kebesaran suku Jawa dalam pelbagai upacara rasmi (Arman Arroisi,1994: 18)
7. Bahasa dan Kesusasteraan
Sunan Ampel memperkenalkan huruf Pegon iaitu sejenis tulis Arab berbahasa Jawa, beliau juga memperkenalkan perkataan baru untuk disesuaikan dengan masyarakat Jawa seperti solat diganti dengan sembah hyang agar mudah difahami mayarakat yang sebelum beragama Hindu, istilah santri (pelajar yang menuntut di pesantren) yang berasal daripada kata shastri iaitu orang yang tahu buku suci agama Hindu.
Selain itu, Wali Songo turut menghasilkan karya seperti Sejarah Negeri Pajajaran oleh Sunan Gunung Jati, Kisah Joko Partoko oleh Sunan Drajat dan kisah Baru Klinthang oleh Sunan Kudus. Dalam bidang sastera pula, Sunan Bonang menghasilkan karya dongeng dan kisah-kisah ulama ketika beliau menyebarkan Islam di Jawa Timur memandangkan masyarakat tersebut menyukai cerita-cerita yang berunsur kesaktian dan mistik (Arman, 1993:10).
Pendekatan dakwah yang efektif
Para wali menggunakan pendekatan dakwah melalui pendidikan bagi mempersiapkan kader umat yang berketrampilan, metod dakwah tadarruj atau proses perubahan yang dilakukan secara evolusi dan akomoditif yang berprinsip merupakan suatu pendekatan yang bijaksana. Ajaran Islam disampaikan menurut tahap kemampuan dan pemikiran masyarakat sebagaimana pepatah Arab menegaskan likulli maqam maqal. Sesuai dengan metod ini, para wali menggunakan model yang telah sedia ada kemudian diterapkan nilai-nilai Islam, misalnya pesantren adalah suatu model pendidikan Islam yang diambil daripada bentuk pendidikan biara dan asrama para pendeta dan biksu, pengaruh mandala Hindu-Buddha masih ada sampai kini (Feby Nurhayati. 2007: 104). Hal ini merupakan salah satu pendekatan persuasif-edukatif dalam proses pengembangan dakwah Islam terhadap masyarakat setempat agar tidak terjadi suatu kejutan dalam menerima nilai-nilai Islam.
Salah satu pendekatan yang digunakan oleh para wali ialah pendekatan tabligh akbar bertujuan mengajak masyarakat agar masuk Islam. Tabligh akbar dikenali sebagai Sekaten.Sekaten berasal daripada bahasa Arab “Syahadatain” (dua kalimah syahadah). Sunan Kalijaga telah mencipta dua buah gamelan untuk menarik minat masyarakat menyertai perayaan Sekaten. Upacara diadakan di halaman masjid sempena memperingati Maulud Nabi Muhammad (SAW). Upacara ini dihadiri oleh raja dan para pengikutnya, diadakan selama seminggu, pada zaman walisongo upacara ini bertujuan, antara lain; menarik hati rakyat memeluk Islam, membenteras gejala syirik, mendorong rakyat setia kepada pemimpin, penyatuan masyarakat, latihan perajurit siap siaga menghadapi sebarang kemungkinan, kewajipan penguasa memberi sedekah kepada fakir miskin dan kewajipan umat Islam mengagungkan hari kebesaran Islam(Feby Nurhayati. 2007; 116). Walisongo menggunakan gapura (pinti gerbang) sebagai jalan masuk orang yang menuju acara Sekatan. Gafura berasal daripada kalimah ghafura, yakni pengampunan. Orang yang masuk gapura hendaklah membaca dua kalimah syahadah dan setelah majlis dipenuhi oleh pengunjung maka gamelan pun dipukul bertalu-talu disertakan dengan tembang keagamaan. Dalam kesempatan itu, para wali menyampaikan ceramah tentang kebenaran agama Islam (ibid).
Pendekatan sufi atau suluk merupakan satu lagi pendekatan berkesan yang digunakan oleh walisongo. Sunan Bonang misalnya memperkenalkan ajaran syariat, tarekat, makrifat dan hakikat melalui Suluk Sunan Bonang atau disebut juga sebagai Suluk Wragul. Wragul adalah bait-bait syair yang indah mengandungi 37 wragul tentang ajaran suluk (Rahimsyah.2000; 126-143). Sunan Giri yang digelar sebagai ‘Ainul- yaqin mengenal hakikat Allah secara halus melalui metod seni dengan mencipta Gending. Sunan Kalijaga memperkenalkan wejangan dalam bentuk lagu atau mantra-mantra yang mengandungi pemujaan terhadap kekuasaan Allah dan sebagai pelindung di malam hari. Begitu juga dengan Sunan Kudus dan Maria menggunakan bakat dan kemahiran masing-masing bagi tujuan manusia yang didakwahkan mereka dapat mengenali Allah, Tuhan yang sebanar.
Di antara pendekatan hikmah yang dihayati oleh para wali ialah pendekatan hiwar atau dailog, para wali tidak mengambil pendekatan kekerasan bagi membenteraskan amalan atau tradisi yang bercanggah dengan Islam. Misalnya, masyarakat Jawa beragama Hindu beranggapan bahawa hujan tidak turun berpunca daripada kemarahan Dewa Hujan, untuk meredakan kemarahan Tuhan supaya diturunkan hujan, maka seorang gadis perlu dikorbankan sebagai persembahan untuk Tuhan. Datuk Bantal(Maulana Malik Ibrahim) mendekati golongan yang menjalankan upacara pengorbanan gadis itu dengan menawarkan khidmat menurunkan hujan tanpa pengorbanan seorang gadis. Beliau bertanya mereka, mahukah kamu bebaskan gadis ini kalau kami dapat menurun hujan? Mereka jawab, ya! Datuk Bantal dan pengikutnya segera melaksanakan solat istisqa’ (solat hajat minta hujan) dengan penuh khusyuk dan akhirnya turunlah hujan. Bila hujan reda orang ramai berlutut kepada Datuk Bantal, beliau pun menegaskan bahawa kamu tidak boleh menyembah manusia. Hanya Allah yang layak disembah. Orang ramai meminta Datuk Bantal supaya diajar kepada mereka cara menurunkan hujan tanpa mengorbankan manusia. Nampaknya, penduduk sudah ada kepercayaan kepada beliau dan inilah peluang untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada mereka. Kalau kamu hendak belajar, kamu harus mengenal dan mempelajari Islam terlebih dahulu. Penduduk setuju dengan syarat itu, sejak itu Islam mula tersebar dengan mudah. Demikianlah kebijaksanaan mengadakan konteks pemikiran dan mencari titik temu sebagai tempat bertolak untuk maju secara sistematik menyampaikan ajaran Islam.
Dakwah bil hal atau uswah hasanah merupakan suatu uslub yang berkesan dalam berdakwah. Sunan kudus misalnya mengambil sikap toleransi yang tinggi terhadap penduduk Kudus yang masih ramai beragama Hindu. Suatu ketika beliau membeli sapi (lembu betina) dari India ditambat di halaman rumahnya, maka orang ramai yang terdiri daripada Islam, Buddha dan Hindu membanjiri rumahnya dan ternanti-nanti apa yang akan dilakukan kepada sapi tersebut. Beliau pun berucap di khalayak, “saya melarang saudara menyakiti sapi ini apalagi menyembelihnya sebab di waktu saya masih kecil dulu ketika saya hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya.” Beliau turut menegaskan bahawa dalam al-Qur`an ada surah bernama al-Baqarah (sapi betina). Selain itu, beliau membina menara mirip candi Hindu. Sikap toleransi beliau itu menyebabkan penduduk Kudus menerima Islam . Sunan Kudus juga berdakwah secara hikmah kepada umat Buddha, beliau membuat tempat wuduk dengan lapan pancuran. Setiap pancuran masing-masing diberi arca kepala lembu betina di atasnya. Hal ini disesuaikan dengan ajaran Buddha iaitu Jalan berlipat lapan. Usaha ini membuahkan hasil apabila ramai penganut Buddha tertarik untuk apa Sunan kudus memasang lambang wasiat Buddha di tempat wuduk (Rahimsyah. 2000;188)
Solat hajat dan berdoa dengan penuh khusuk dan ikhlas merupakan satu lagi kaedah berdakwah yang dihayati oleh Wali Songo. Misalnya, Sunan Kudus (Ja’far Sadiq) menawarkan diri memohon kepada Allah supaya dilenyapkan bala yang menimpa Mekah setelah ramai ulama yang gagal berbuat demikian. Sebelum itu, Amir Mekah menawarkan hadiah wang bagi siapa yang dapat menolak bala melalui doa mereka, namun tidak seorang pun makbul doa mereka. Amir bertanya beliau apa yang menghalang doa ulama Mekah diterima oleh Allah? Beliau menjawab anda sendiri! Anda telah menjanjikan hadiah wang dan ia menggelapkan mata hati mereka sehingga doa mereka tidak ikhlas. Beliau pun berdoa dan membaca beberapa amalan, dengan izin Allah wabak pun hilang. Sebagai membalas jasa beliau itu, Amir ingin beri hadiah tetapi beliau menolak, beliau hanya mengambil batu yang berasal dari BaitulMaqdis dan dibawa balik ke Kudus.
Syeikh Maulana Ishak (Sunan Giri) bersedia mengubati mengubati Dewi Sekardadu dan mengusir wabak penyakit yang menimpa Blambangan dengan syarat Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya masuk Islam dan rakyat Blambangan bersedia mendengar nasihatku. Setelah mendapat persetujuan, Syeikh Maulana Ishak mengubati dengan solat hajat dan amalan tarikat selama tiga malam, dan malam ke empat Dewi Sekardadu membuka mata dan sembuh penyakitnya. Prabu Menak Sembuyu menepati janjinya dan Syeikh Maulana Ishak diambil menjadi menantu dan dijodohkan dengan puteri beliau, Sekardadu. Sambil menunggu keadaan kesihatan Dewi pulih sepenuhnya, Syeikh Maulana berdakwah ke seluruh negeri dan mengubati penyakit di Blambangan. Menurut beliau punca penyakit adalah kerana rakyat tidak menjaga kebersihan dan kesihatan tidak terjaga, makanan mengandungi racun dan penyakit dan mereka membuang najis merta-rata tempat dan jarang mandi membersihkan badan. Setelah diberi rawatan dan membersih diri dan persekitaran, maka ramai rakyat Blambangan sembuh penyakit mereka (ibid).
Kesimpulan
Wali Songo bukan sahaja berjaya dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa tetapi turut memberi sumbangan dalam pelbagai bidang kehidupan. Mereka telah berjaya memperkenalkan Islam sebagai suatu cara hidup yang menyeluruh. Mereka menggunakan segala bakat dan kepandaian yang ada pada mereka untuk menyampaikan ajaran Islam. Sumbangan dan peranan mereka itu sebenarnya mempunyai perkaitan dengan kepelbagaian strategi dan pendekatan dakwah berkesan yang mereka gunakan, sudah tentu pendekatan itu digali daripada sumber al-Qur`an dan Hadis Nabi (SAW). Pendekatan sufi yang dinamik, penuh hikmah adalah satu langkah yang bijak dalam usaha mendekatkan masyarkat Jawa kepada Islam.
Bibliografi
Arman Arroisi. 1993. Sunan Bonang: Pendekar Bersenjata Tembang. Bangung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Ashadi. 2006. Warisan Walisongo. Bogor: Lorong Semesta
Feby Nurhayati, Reny Nuryanti, Sukendar. 2007. Wali Sanga: Profil dan warisannya. Yogyakarta: Pustaka Timur
Hasanu Simon, 2004. Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mahayudin Haji Yahaya. 2001. Islam di Alam Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
MB Rahimsyah AR. Wali Songo: Perjuangan dalam dakwah Islam. Kuala Lumpur: Pustaka Syuhada
Musyrifah Sunanto. 2007. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Jakarta: PT Persada
Muhammad Natsir.1978. Fiqh Dakwah (edisi jawi), Kuala Lumpur: IIFSO
Ridin Sofwan, H. Wasit dan H. Mundiri. 2000. Islamisasi di Jawa: Walisongo Penyebar Islam di Jawa Menurut Pertuturan Babad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
---------------------------------------
Oleh
Prof Madya Dr. Ahmad Zaki Hj Abd Latiff
Pusat Pemikiran dan Kefahaman Islam (CITU)
Universiti Teknologi Mara
40450, Shah Alam
Seminar Pemikiran Islam: Metode Dakwah Walisongo
Anjuran Bersama
Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
Dan IMAN Malaysia
Tarikh
3 Oktober 2010 (Ahad)
Bersamaan 24 Syawal 1431
Surabaya




