Showing posts with label HAMKA. Show all posts
Showing posts with label HAMKA. Show all posts

Friday, August 10, 2012

Memburu Inspirasi Lailatul-Qadr


Apabila masuk fasa ketiga bulan Ramadan, umat Islam akan membincangkan tentang malam kemuliaan atau lebih dikenali sebagai Lailatul-Qadr. Ramai ulama yang telah membahas dengan panjang lebar berdasarkan Al-Quran dan Hadith Rasulullah saw. Surah al-Qadr menegaskan bahawa al-Quran telah diturunkan dari Luh Mahfuz (langit yang tertinggi) ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul-Qadr. Ibn Abbas menyatakan bahawa al-Quran diturunkan kesemua sekali pada malam Lailatul-Qadr pada bulan Ramadan ke langit dunia.

Menurut Hamka, Lailatul-Qadr adalah satu titik mula turunnya Al Quran dan bermulalah peranan baginda Muhammad saw memberi petunjuk kepada umatnya. Pada malam itu manusia diberi kemuliaan kerana menerima pokok-pokok tauhid yang bersumberkan Al Quran yang mengeluarkan dari kegelapan kepada nur, cahaya petunjuk Allah.

Malam kemuliaan yang sangat istimewa itulah satu permulaan dan penentuan garis pemisah di antara kufur dengan iman, jahiliyah dengan keilmuan, syirik dengan tauhid. Bertepatan dengan Surah Al-Baqarah 185 yang bermaksud:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang padanyalah diturunkan Al Quran, menjadi petunjuk bagi manusia, dan keterangan-keterangan dari petunjuk itu dan pemisah, di antara yang hak dengan yang batil."

Di dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka mencatatkan bahawa Abdullah bin Masud, dan Asy-Sya’bi dan Al-Hasan dan Qatadah berpendapat bahwa malam Lailatul-Qadr itu ialah malam 24 Ramadan. Manakala As-Sayuthi yang kemudian sekali dikuatkan oleh Syaikh Khudhari bahawa ianya berlaku pada 17 Ramadan.

Menurut Ibn Umar, Lailatul-Qadr berlaku pada setiap Ramadhan. Bagaimana pun ayah Hamka, Syeikh Yusuf Amrullah menyatakan pendapatnya yang sama dengan pendapat ulama yang disalinkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul-Bari bahwa Lailatul-Qadr yang sebenarnya hanya sekali iaitu ketika mula-mula Al Quran diturunkan.

Kita memperkuat ibadat di dalam kerana memperingati dan memuliakan peristiwa malam Al-Quran diturunkan agar kita bertambah yakin memegang segala yang dianugerahkan Allah di dalam Al Quran. Begitulah yang dilakukan oleh baginda Rasulullah saw. Bagaimanapun terdapat juga riwayat yang kuat menyatakan Lailatul-Qadr itu ialah pada malam sepuluh yang akhir dari Ramadhan kerana sejak malam 21 itu nabi s.a.w lebih memperkuat ibadatnya daripada malam-malam yang sebelumnya sampai baginda bangunkan kaum keluarganya yang tertidur.

Apa pun wacananya. Misi terpenting di dalam tarbiyyah Ramadan adalah TAQWA (malah dipesan setiap Jumaat oleh Khatib). Menghayati inspirasi penurunan Al Quran (Iqra'). Meneladani peristiwa Perang Badar dan Futuh Mekah. Memburu Malam Kemuliaan. Hanya yang bertaqwa punya upaya memburu kemuliaan itu. Menepati firman Allah swt yang bermaksud:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling MULIA diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling TAQWA[#] di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (Al Hujuraat: 13)


ABU IRSYAD
Darul Ehsan
21 Ramadan 1433


NOTA:

[#1.]
Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan hakikat taqwa dengan sabda baginda yang bermaksud :
"Mentaati Allah dan tidak mengingkari perintah-Nya, sentiasa mengingati Allah dan tidak melupainya, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri nikmat-Nya".
- Riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas

[#2.]
Saidina Umar r.a. pernah bertanya kepada seorang sahabat yang lain bernama Ubai bin Ka'ab r.a. makna taqwa. Lalu Ubai bertanya kepada Umar : "Adakah engkau pernah melalui satu jalan yang berduri? Jawab Umar: "Ya". Tanya Ubai lagi: "Apakah yang kamu lakukan untuk melalui jalan tersebut?".

Jawab Umar : "Aku melangkah dengan waspada dan berhati-hati". Balas Ubai : "Itulah yang dikatakan taqwa".

[#3.]
"Al-Muttaqin (yakni orang-orang bertaqwa) ialah orang-orang beriman yang memelihara diri mereka dari mensyirikkan Allah dan beramal menta'atiNya". - Ibnu Abbas

[#4.]
"Orang-orang bertaqwa ialah orang-orang yang memelihara diri dari melakukan perkara yang diharamkan Allah dan mengerjakan apa yang difardhukan Allah ke atas mereka". - Hasan al-Basri

[#5.]
"Orang bertaqwa ialah seorang yang apabila bercakap, ia bercakap kerana Allah dan apabila ia beramal, ia beramal kerana Allah". - Abu Yazid al-Bustami

Tuesday, May 15, 2012

Malam Pengenalan GPTD Unisel


Jom kenali Grup Pengkaji Tamadun Dunia Unisel dengan lebih dekat. Program akan dirasmikan oleh Timbalan Presiden GPTD Pusat, Sdr Abdul Hakim Shabuddin. Slot khas akan membawa Perkongsian Pengalaman Jejak Patani yang baru selesai menjalankan misi luar negara pada April 2012.

Tuesday, September 20, 2011

Jom sertai GPTD di Festival Kelab & Persatuan

Bestari Jaya, 20 September 2011 - Sempena Festival Kelab & Persatuan anjuran Majlis Perwakilan Pelajar GPTD akan membuka pendaftaran keahliannya. Jangan lepaskan peluang keemasan untuk menjadi sukarelawan GPTD untuk berbakti di dalam dan luar negara. Sukarelawan boleh memilih grup yang diminati mereka seperti Grup Wali Songo, Grup Ibn Battutah, Grup Hamka, Grup Al-Fateh, Grup Said Nursi, Grup Cheng Ho dan Grup Jejak Pattani. Beberapa program yang akan dilaksanakan pada tahun 2012 adalah XPDC Hamka II, XPDC Wali Songo II, XPDC Ibn Battutah dan Jejak Pattani II.  Antara program lain yang pernah dilaksanakan oleh GPTD adalah Bedah Filem Laskar Pelangi, Bedah Buku : Minda Tertawan, Diskumi Al-Amin, Kutipan derma kilat mangsa kebakaran, LAWAT - Lawatan Rumah Ibadah. Bagi mengenali organisasi ini dengan lebih dekat boleh layar Info  dan Foto. Maklumat lanjut sila hubungi 010.269.3320 Hani.

-Unit Media

Monday, November 22, 2010

Dakwah di Lereng Merapi

Prof. Dr. Hamka pernah menulis sebuah artikel menarik berjudul “Islam dan Majapahit”, yang dimuat dalam buku Dari Perbendaharaan Lama (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982). Bagi pengkaji sejarah Islam di Indonesia, artikel Hamka ini teramat sayang untuk dilewatkan. Hamka memulai artikelnya dengan ungkapan pembuka:
“Meskipun telah hidup di zaman baru dan penyelidik sejarah sudah lebih luas dari pada dahulu, masih banyak orang yang mencoba memutar balikkan sejarah. Satu di antara pemutarbalikkan itu ialah dakwah setengah orang yang lebih tebal rasa Hindunya daripada Islamnya, berkata bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam. Padahal bukanlah begitu kejadiannya. Malahan sebaliknya.”

Hamka menjelaskan, bahwa Kerajaan Majapahit pada zaman kebesarannya, terutama semasa dalam kendali Patih Gajah Mada, memang adalah sebuah kerajaan Hindu yang besar di Indonesia, dan pernah mengadakan ekspansi, serangan dan tekanan atas pulau-pulau Indonesia yang lain. Dalam kitab “Negarakertagama” disebutkan daftar negeri taklukkan Majapahit. Berbagai Kerajaan, baik Hindu, Budha, maupun Kerajaan Islam ditaklukkan.

Kerajaan Islam Pasai dan Terengganu pun dihancurkan oleh Majapahit. Pasai tidak pernah bangkit lagi sebagai sebuah kerajaan. Tapi, Pasai kaya dengan para ulama. Di dalam sejarah Melayu, Tun Sri Lanang menulis, bahwa setelah Kerajaan Malaka naik dan maju, senantiasa juga ahli-ahli agama di Malaka menanyakan hukum-hukum Islam yang sulit ke Pasai. Dan jika ada orang-orang besar Pasai datang ziarah ke Malaka, mereka disambut juga oleh Sultan-sultan di Malaka dengan serba kebesaran.

Menurut Hamka, jika Pasai ditaklukkan dengan senjata, maka para ulama Pasai kemudian datang ke Tanah Jawa dengan dakwah, dengan keteguhan cita-cita dan ideologi. Para ulama datang ke Gresik sambil berniaga dan berdakwah. Terdapatlah nama-nama Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ibrahim Asmoro, atau Jumadil Kubro, ayah dari Maulana Ishak yang berputera Sunan Giri (Raden Paku) dan Sunan Ngampel (Makhdum Ibrahim).

“Dengan sabar dan mempunyai rancangan yang teratur, guru-guru Islam berdarah Arab-Persia-Aceh, itu menyebarkan agamanya di Jawa Timur, sampai Giri menjadi pusat penyiaran Islam, bukan saja untuk tanah Jawa, bahkan sampai ke Maluku. Sampai akhirnya Sunan Bonang (Raden Rahmat) dapat mengambil Raden Patah, putra Raja Majapahit yang terakhir (Brawijaya) dikawinkan dengan cucunya, dan akhirnya dijadikan Raja Islam yang pertama di Demak,” tulis Hamka.

Tindakan para wali dalam penyebaran Islam di Jawa itu tidak dapat dicela oleh raja-raja Majapahit. Bahkan, kekuasaan dan kewibawaan mereka di tengah masyarakat semakin meluas. Ada wali yang diangkat sebagai adipati Kerajaan Majapahit. Hamka menolak keras pandangan yang menyatakan, bahwa Majapahit runtuh karena diserang Islam. Itu adalah pemutarbalikan sejarah yang sengaja disebarkan oleh orientalis seperti Snouck Hourgronje. Upaya ini dilakukan untuk menjauhkan bangsa Indonesia agar tidak menjadikan Islam sebagai basis semangat kebangsaan. “Maksud ini berhasil,” papar Hamka.

Akibatnya, dalam pentas sejarah nasional Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah, nama Sunan Ampel dan Sunan Giri tenggelam oleh nama Gajah Mada. Nama Raden Patah dan Pati Unus yang mencoba mengusir penjajah Portugis dari Malaka tenggelam oleh nama Raja Airlangga. Upaya sistematis untuk memecah belah bangsa Indonesia yang mayoritasnya Muslim dilakukan dengan berbagai cara oleh penjajah Belanda. Salah satunya dengan menjauhkan Islam dari semangat kebangsaan Indonesia. Seolah-olah Indonesia adalah kelanjutan Kerajaan Majapahit.

Simaklah paparan Hamka selanjutnya berikut ini:
“Marilah kita jadikan saja segala kejadian itu, menjadi kekayaan sejarah kita, dan jangan dicoba memutar balik keadaan, agar kokohkan kesatuan bangsa Indonesia, di bawah lambaian Merah Putih!

Kalau tuan membusungkan dada menyebut Gajah Mada, maka orang di Sriwijaya akan berkata bahwa yang mendirikan Candi Borobudur itu ialah seorang Raja Budha dari Sumatra yang pernah menduduki pulau Jawa.

Kalau tuan membanggakan Majapahit, maka orang Melayu akan membuka Sitambo lamanyab pula, menyatakan bahwa Hang Tuah pernah mengamuk dalam kraton sang Prabu Majapahit dan tidak ada kstaria Jawa yang berani menangkapnya.

Memang, di zaman jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.

Tahukan tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Diponegoro, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan disana beliau berkubur buat selama-lamanya?

Maka dengan memakai paham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana.”


Peringatan Hamka, ulama terkenal, ini kiranya sangat patut dicamkan! Upaya sebagian kalangan, baik LSM dalam dan luar negeri maupun sebagian unsur pemerintah untuk menjauhkan Islam dari masyarakat – dengan cara membangkitkan kembali tradisi-tradisi pra-Islam atau menanamkan paham sekularisme – sejatinya akan membawa Indonesia ke jurang bencana.

Fenomana ini menunjukkan, bahwa tantangan dakwah Islam di Tanah Jawa sejatinya masih belum berubah. Jika Wali Songo dan para pendakwah Islam lainnya di Tanah Jawa telah memulai langkah-langkah yang spektakuler, mengubah agama penduduk mayoritas negeri ini menjadi Muslim, maka kaum Muslim selanjutnya berkewajiban melanjutkannya. Dalam buku terkenalnya, Fiqhud Da’wah, M. Natsir menegaskan, bahwa dakwah adalah kewajiban setiap muslim. “Tidak boleh seorang Muslim dan Muslimah menghindarkan diri dari padanya.”

*****
Semangat dakwah yang membara dari generasi awal Islam dan generasi-generasi sesudahnya itulah yang kemudian – dengan izin Allah – mampu menghantarkan Islam menjadi agama yang dipeluk di berbagai pesolok bumi. Sejumlah catatan menunjukkan, bahwa sejak abad ke-7 Masehi, sejumlah pendakwah Islam sudah mulai menginjakkan kakinya di bumi Nusantara. Dakwah berupa pengislaman suatu masyarakat kadangkala memerlukan proses yang sangat panjang, bisa sampai ratusan tahun, yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jurnal Islamia-Republika edisi 18 November 2010 mengangkat tema tentang dakwah Islam dan tantangan Kristenisasi serta Nativisasi di sekitar Lereng Merapi. Sejumlah artikel yang ditulis para alumni Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Program Magister Pemikiran Islam –Universitas Muhammadiyah Surakarta menguraikan sejarah panjang perjalanan dakwah di lereng salah satu gunung berapi teraktif di dunia tersebut.

Menarik misalnya menyimak kisah “Mbah Petruk”, yang namanya sempat popular di Indonesia menyusul bencana Merapi di tahun 2010 ini. Mbah Petruk makin populer setelah seorang warga memotret asap solvatara Gunung Merapi yang menyerupai kepala Petruk. Karena hidung Petruk mengarah ke Yogya, maka ada paranormal yang menyatakan, bahwa bencana akan mengarah ke Yogya. Selama ini di sebagian kalangan, mitos Mbah Petruk sering dikaitkan dengan pemuka jin dan tanda-tanda bencana Merapi.

Hasil penelitian Susiyanto, peneliti INSISTS bidang sejarah Islam dan Jawa, terhadap tradisi lisan di salah satu kawasan lereng Merapi, menunjukkan, bahwa nama asli Mbah Petruk sebenarnya adalah Kyai Handoko Kusumo. Nama ini dikenal sebagai penyebar Islam di kawasan lereng Merapi pada era 1700-an. Kyai Handoko Kusumo adalah seorang keturunan Arab, berhidung mancung. Karena soal hidung mancung itulah, sosoknya dikaitkan dengan tokoh punakawan dalam pewayangan bernama Petruk yang mempunyai ciri khas hidung panjang. Di duga, Mbah Petruk yang ini adalah murid generasi kedua dari Sunan Kalijaga. Pada masa tuanya, Mbah Petruk diperkirakan meninggal di Gunung Bibi dan jasadnya tidak pernah diketahui. Hal inilah yang memunculkan anggapan spekulatif bahwa dirinya telah moksa.

Sejumlah penelitian menunjukkan, sampai tahun 1700-an, penduduk daerah di sekitar Merapi masih menganut Agama Hindu dan berbagai bentuk kepercayaan kuno. Pada era Perang Diponegoro (1825-1830), Kyai Mojo, ulama dan penasihat spiritual Pangeran Diponegoro telah memobilisasi pasukan yang berasal dari lereng Merapi. Hal ini menunjukkan bahwa proses Islamisasi di kawasan ini telah berjalan beberapa tahun sebelumnya.

Dakwah di masa itu menghadapi tantangan yang sangat berat. Berbagai ritual kuno yang dijalankan sebagian penduduk sangat jauh dari nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Misalnya, adanya ritual pengorbanan manusia, dengan menyembelih atau melemparkannya ke kawah Merapi, sebagai persembahan kepada “dewa” agar bencana tidak terjadi. Hasil penelitian Muhammad Isa Anshory, alumnus Program Magister Pemikiran Islam UMS tentang ritual-ritual kuno di sekitar Lereng Merapi mencontohkan ritual aliran Bhairawa Tantra.

Aliran ini punya percaya bahwa cara menghentikan godaan hawa nafsu adalah dengan cara memperturutkan hawa nafsu itu sendiri. Sebab bila manusia terpuaskan nafsunya, maka jiwanya akan menjadi merdeka. Bhairawa Tantra muncul kurang lebih pada abad ke-6 M di Benggala sebelah Timur. Dari sini, lalu tersebar ke Utara melalui Tibet, Mongolia, masuk ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah Timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selain di Jawa, sekte ini juga menyebar di Sumatra serta berangsur-angsur bersatu dengan tenung dan kepercayaan pada kanibalisme. Seorang raja terkenal dari kerajaan Melayu kuno, diceritakan menerima pelantikannya di tengah-tengah lapangan bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah, dan menghadap korban manusia yang menebarkan bau busuk. Akan tetapi, semua ini bagi Adityawarman sangat semerbak baunya.

Bentuk ritual Bhairawa Tantra meliputi apa yang dikenal dengan sebutan ma-lima atau pancamakara. Ritual Ma-lima tersebut terdiri dari matsiya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman keras), mudra (ekstase melalui tarian yang terkadang bersifat erotis atau melibatkan makhluk halus hingga “kerasukan”), dan maithuna (seks bebas). Dalam bentuk yang paling esoterik, pemujaan yang bersifat Tantrik memang memerlukan persembahan berupa manusia. Ritualnya meliputi persembahan berupa meminum darah manusia dan memakan dagingnya. Ada juga ritual seks bebas dan minum minuman keras yang dilakukan ditempat peribadatan berupa lapangan (padang) bernama Lemah Citra atau Setra. Ritual tersebut dilakukan untuk mendapatkan cakti. Oleh karena itu aliran ini juga sering disebut sebagai saktiisme. Pada era selanjutnya dapat dijumpai sisa-sisanya dalam apa yang disebut dengan istilah kasekten.

Praktik mistik yang lain yang masih eksis di lereng Merapi adalah ritual telanjang yang dilakukan di Candi Lumbung pada setiap awal bulan Suro. Ritus ini dilakukan tengah malam selepas pukul 00.00 WIB dengan bertelanjang bulat mengelilingi Candi Lumbung sambil membaca mantra-mantra khusus di bawah panduan seorang pemimpin upacara. (Majalah Liberty, 11-20/1/2008).

Ritual ini juga masih memiliki kemiripan sebagai sisa ritual Bhairawa Tantra. Di daerah sekitar Merapi, bekas-bekas setra (tempat pengorbanan manusia dan area persetubuhan masal dalam ritus Bhairawa) yang lain juga dapat ditemukan. Sampai sekitar tahun 2006, tempat pemujaan berupa Setra masih dapat ditemui di Bon Bimo. Namun di tempat petilasan itu saat ini telah didirikan sebuah masjid oleh masyarakat setempat. Konon, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, saat tempat itu hendak didirikan masjid, batu yang menjadi “altar” penyembelihan gadis perawan di Bon Bimo itu mengeluarkan suara tangisan di malam hari. Banyak penduduk sekitar bisa mendengarnya. Namun masyarakat setempat kini telah memilih Islam dan sebuah masjid berdiri atas kehendak warga desa di tempat itu.

Tradisi ritual semacam ini tentu saja sudah ditinggalkan masyarakat sekitar lereng Merapi. Sebagian besar mereka kini memeluk agama Islam. Bahkan, tradisi-tradisi sesudahnya, seperti penanaman kepala kerbau juga berangsur ditinggalkan. Islam telah mengubah persepsi mereka tentang makna ibadah dan “kurban”. Inilah salah satu bukti bahwa dakwah Islam terus berjalan, perlahan-lahan mengubah tradisi masyarakat sekitar Lereng Merapi.

Tentu saja, dakwah harus tetap wajib dijalankan dan dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya. Apalagi, kini tantangan dakwah di sekitar lereng Merapi menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu gerakan Kristenisasi dan Nativisasi. Jika kita berkeliling di sejumlah daerah Lereng Merapi, akan dengan mudah mendapati berbagai pusat gerakan Kristenisasi.

Gerakan nativisasi kini dilakukan juga dengan massif melalui berbagai cara. Tradisi-tradisi ritual kuno yang bertentangan dengan ajaran Islam, sengaja dimunculkan kembali bahkan dipromosikan yang kadangkala bermotifkan promosi wisata. Hal-hal yang jelas merupakan perbuatan syirik dikatakan oleh sebagian orang sebagai bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang harus dilestarikan. Jika tradisi menanam atau melarung kepala kerbau dikatakan sebagai bentuk kearifan lokal, mestinya praktik persembahan manusia ke kawah Merapi atau praktik ritual telanjang juga bisa dimasukkan dalam daftar kearifan lokal.

Tentu kita berharap para ulama, tokoh masyarakat, dan pejabat yang Muslim lebih mengedepankan cara pandang Islami, dalam menentukan mana tradisi yang perlu dilestarikan dan mana yang tidak. Sebab, akhirnya hanya kepada Allah juga kita akan bertanggung jawab atas amal-amal kita. [Depok, 19 November 2010/hidayatullah.com]


Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Tuesday, October 19, 2010

Hamka : Kerdipan Bintang yang tidak kunjung padam

Pengumuman di corong radio Malaysia awal pagi 24 julai 1981 mengenai pemergiannya menghadap Ilahi disambut dengan cukup pilu oleh seluruh bangsa Melayu-Islam di nusantara Melayu ini. Terasa kosong alam Melayu atas pemergiannya walaupun ada beribu-ribu ulama dan cendekiawan Melayu pada waktu itu yang masih hidup. Namun nama HAMKA sangat besar nilainya dalam dunia ilmu di nusantara Melayu ini.

Setiap kali dia hadir ke pentas ceramah, berpuluh-puluh ribu manusia berhimpun untuk mendengar nasihat dan peringatan yang disampaikannya. Dia menutur katanya dengan bersahaja, lembut dan meresap jauh ke dalam kalbu. Nyata dia sangat memahami jiwa pendengarnya yang gersang dan kekeringan petunjuk.

HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di nusantara Melayu ini. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

HAMKA mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).

HAMKA mendalami berbagai-bagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik mengikut sudut pandang Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggeris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. HAMKA juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.

HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Julai 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.

HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doktor Kehormat , Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Kehormat , Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

HAMKA telah pulang ke rahmatullah pada 24 Julai 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya dihargai di seluruh nusantara Melayu , termasuk di Malaysia dan Singapura.

Oleh : Hasanuddin Md Isa

JARINGAN AMAL ISLAMI DI ALAM MELAYU: MENELUSURI JEJAK PENGARUH DA`I INDONESIA DI MALAYSIA

Siddiq Fadzil

Presiden

Wadah Pencerdasan Umat Malaysia (WADAH)

(Kertas Kerja di bentangkan di Seminar Pra Silaturrahim Nasional (Silatnas) Dewan Da'wah Islamiyyah Indonesia (DDII) pada 25 September 2010 di Jakarta)



Mukadimah

Meskipun telah terbelah-belah dari segi geo-politiknya, Alam Melayu masih dilihat sebagai sebuah zon kebudayaan Islam dengan ciri-ciri khas yang membezakannya daripada kebudayaan Islam daerah-daerah Dunia Islam lain seperti zon kebudayaan Islam Arab, Indo-Pakistan, Afrika dan lain-lain. Kebudayaan kita adalah kebudayaan kepulauan yang menyerlahkan ciri kepelbagaian dan keberagaman, tetapi tetap berkongsi ciri-ciri khas kesamaan dan keseragaman. Demikianlah hakikatnya, ada diversity kepulauannya, dan ada pula unity keislaman-kemelayuannya.

Jejak Para Perintis

Kesatuan tersebut adalah suatu yang sangat bererti, sehingga pada suatu ketika ia pernah merangsang gagasan politik kesatuan seperti Melayu Raya (Ibrahim Yakob dan Dr.Burhanuddin al-Helmi -- Malaysia) dan Indonesia Raya (Muhamad Yamin - Indonesia). Kesatuan budaya tersebut adalah hasil Islamisasi, suatu proses transformatif yang memesat di rantau ini dari abad 13-16M. Seawal era tersebut telah wujud jaringan amal Islami serantau yang melibatkan pusat-pusat pengembangan Islam seperti Pasai, Melaka, Aceh dan lain-lain yang bererti juga wujudnya jaringan di kalangan para penguasa Islam dan ulama-ulamanya. Di samping pemerataan dakwah, jaringan tersebut telah menghasilkan kesatuan kesatuan tradisi keintelektualan Melayu. Kitab-kitab karangan ulama Melayu yang dikenali dengan sebutan kitab jawi tersebar luas merentasi persempadanan geografis, suku kaum dan dialek bahasa. Dengan menggunakan bahasa Melayu (kekitaban) dalam penulisan mereka, para ulama tersebut telah membina bahasa kesatuan yang kaya dan dapat berfungsi dengan berkesan sebagai bahasa komunikasi dan bahasa tamadun tinggi. Ternyata yang tersebar bukan hanya karya, malah para ulama itu sendiri juga menyebar. Gelar-gelar penisbahan kepada nama tempat asal tidak membatasi daerah mereka berkiprah. Dalam kaitan ini kiranya wajar dicatat bahawa al-Falimbani tidak hanya giat di tanah kelahirannya, tetapi telah ikut berjihad dan gugur syahid mempertahankan kedaulatan Kedah Dar al-Aman dari pencerobohan Siam.

Laut selat Melaka bukan pemisah Sumatera dengan Semenanjung Tanah Melayu. Ramai tokoh yang berulang-alik lalu menjadi milik bersama dua daerah Melayu tersebut. Syeikh Tahir Jalaluddin (Minangkabau) dan Syeikh Junid Tola (Mandailing) adalah contoh ulama milik bersama Malaysia-Indonesia. Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu memang berseberangan lokasi, tetapi tetap berkongsi budaya dan tradisi.

Pada satu ketika, selain Asia Barat, Indonesia menjadi pilihan anak-anak Malaysia untuk melanjutkan pengajian agama. Ada yang ke universitas, ada yang ke pondok/pesantren, dan ada juga yang ke madrasah seperti Diniah Puteri, Padang Panjang yang pernah melahirkan beberapa orang tokoh wanita dalam politik Malaysia. Sementara itu pada pertengahan abad ke-20 terdapat sejumlah insitusi pengajian pondok replika pesantren Jawa di daerah-daerah penempatan masyarakat (asal) Jawa di bahagian selatan pantai barat Semenanjung Tanah Melayu seperti Johor, Selangor dan Perak.

Partisipasi tokoh-tokoh da`i/agamawan Indonesia dalam amal dakwah dan pendidikan terus berlanjut hingga ke era kontemporer. Ketika Malaysia mula meningkatkan sistem pengajian Islamnya ke tahap universiti sejumlah cendekiawan Indonesia turut menyumbang sebagai tenaga akademik. Mereka termasuklah O.K.Rahmat di Yayasan Pengajian Tinggi Islam Kelantan (Nilam Puri) yang kemudian menyambung khidmatnya di Universiti Sains Malaysia (Pulau Pinang), Mukhtar Lintang dan Sidi Gazalba di Fakulti Pengajian Islam Universiti kebangsaan Malaysia, dan Dr.Hasan Langgulung di Fakulti Pendidikan (UKM) yang kemudian melanjutkan khidmatnya di Universiti Islam Antarabangsa (Gombak). Bagaimanapun kertas ini hanya akan menumpukan sorotannya pada tiga orang tokoh yang telah memberikan sumbangan istimewa iaitu Muhamad Natsir, Hamka dan Dr. Ir. Imaduddin Abdul Rahim.

Muhamad Natsir

Muhamad Natsir memang tidak dikenal luas di kalangan massa umat, tetapi sangat dikenal dan dihormati di kalangan para aktivis gerakan Islam, juga di kalangan pimpinan politik Islam. Yang jelas beliau termasuk tokoh penyumbang kepada fenomena kebangkitan Islam di Malaysia yang menyemarak pada tahun-tahun 1970'an. Ungkapan the rising tide of Islam yang popular ketika itu sangat terkait dengan Natsir. Hubungan akrabnya dengan Anwar Ibrahim, pimpinan utama gerakan kepemudaan era tersebut, mendekatkan Natsir dengan warga ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia), wadah yang mempelopori kebangkitan Islam di Malaysia.

Teras aktiviti atau jawhar al-`amal gerakan Islam, khususnya ABIM tidak lain adalah dakwah, di samping pendidikan. Dakwah adalah amanah yang harus dilaksanakan menepati pesan dakwah bi 'l-hikmah dan dakwah `ala basirah. Semangat untuk berdakwah memang tinggi, tetapi cara, kaedah dan uslubnya belum dikuasai. Dalam konteks situasi dan kondisi seperti itulah buku Fiqh al-Da`wah Muhamad Natsir itu sangat membantu. Ketika itu hanya itulah satu-satunya buku berbahasa Melayu tentang ilmu dakwah. Atas pertimbangan keperluan buku tersebut diterbitkan semula di Malaysia dalam versi bertulisan jawi.

Gerakan Islam pada tahap awalnya berhadapan dengan realiti Islam yang telah direduksi menjadi sekadar ritual peribadi tanpa kaitan apa pun dengan urusan kehidupan yang lebih luas. Antara misi besar kaum da`i ialah untuk mengangkat semula Islam dalam bentuknya yang sempurna, taqdim al-Islam bisuratihi al-kamilah. Dalam rangka mengembalikan shumuliyyat al-Islam itulah tesebarnya ungkapan al-Islam din wa dawlah (Islam adalah agama dan negara). Dalam kaitan ini tulisan Natsir dalam Capita Selecta yang merakamkan polemiknya dengan Soekarno tentang isu agama dan negara telah turut memberikan pencerahan dan memberikan kekuatan argumentatif kepada para da`i.

Selain menjelaskan hakikat Islam, gerakan dakwah juga menghadapi tantangan faham-faham asing, terutama ideologi dan pemikiran Barat moden seperti sekularisme, demokrasi, nasionalisme dan lain-lainnya. Dalam menangani tantangan ini pemikiran Muhamad Natsir selalu menjadi rujukan dan panduan. Para da`i muda Malaysia merasa mendapat bekalan modal pemikiran dari tulisan Natsir tentang demokrasi Islami yang diistilahkan sebagai theistic democracy atau demokrasi berTuhan itu. Demikian juga dalam menghadapi sekularisme kritikan Natsir terhadap faham tersebut dalam Capita Selecta sungguh bermanfaat dari segi mendalami kefahaman dan memperkuat argumentasi. Justeru, sekularisme adalah antara faham yang paling banyak merosak pemikiran dan cara hidup umat, dan Natsir adalah antara tokoh pemikir Islam yang terawal mendebat sekularisme secara ilmiah, sementara ABIM adalah gerakan Islam di Malaysia yang pertama menyerlahkan bahaya sekularisme sebagai faham yang secara diametrikal bertentangan dengan Islam dan akidah tauhidiknya.

Perjuangan dan eksperimen politik Natsir adalah suatu yang sangat inspiring. Terlepas dari soal sejauh mana keberhasilannya, kejayaan Natsir dan parti Masyuminya membentuk kabinet pada zaman seawal itu, yang jauh mendahului organisasi-organisasi Islam di seluruh rantau dunia lain adalah suatu yang membanggakan dan sekaligus menumbuhkan semangat percaya diri di kalangan pemuda-pemuda pergerakan di Malaysia. Meskipun ekperimen tersebut terjadi dalam masa yang relatif singkat, tetapi sesungguhnya ia sangat kaya dengan pengalaman, terutama pengalaman memperjuangkan aspirasi politik Islam dalam konteks pluraliti masyarakat dan demokrasi multiparti, merealisasikan idealisme perjuangan parti di samping harus mengakomodasi kepentingan pihak-pihak lain.

Natsir telah meninggalkan legasi amal Islami, perjuangan islahi, pemikiran tanwiri dan keteladanan misali. Pesan-pesan keramatnya, "ikan biar tertangkap, air jangan keruh", "yang mudah kita kerjakan sekarang, yang susah kita kerjakan nanti, yang mustahil kita kerjakan esok" adalah antara kata-kata pusakanya yang padat dengan wisdom kepemimpinan, dan ia akan abadi dalam ingatan para da`i generasi pelanjut perjuangannya di Malaysia.

Hamka

Hamka adalah ulama-sasterawan yang dikenal luas di Malaysia, kalangan massa dan penguasa, juga khalayak sastera. Hamka dikenali dan diminati ramai kerana novel-novelnya yang mengharukan dan ceramah-ceramahnya yang memukau. Tetapi yang lebih mengesankan adalah karya-karya ilmiahnya seperti tafsir al-Azhar, Sejarah umat Islam dan Tasawuf modennya. Bagi yang tidak dapat memahami kitab-kitab tafsir berbahasa Arab, tafsir al-Azhar selalu menjadi pilihan kerana keistimewaannya dari beberapa segi. Ia adalah tafsir berbahasa Melayu paling besar yang ditulis dengan gaya bahasa ceramah panjang. Selain itu al-Azhar juga mungkin satu-satunya tafsir yang dalam huraian-huraiannya paling banyak merujuk isu-isu lokal kemelayuan. Karyanya Sejarah Umat Islam pula adalah karya sejarah Islam yang paling lengkap liputannya. Ia memuatkan pemerian tentang sejarah Islam hampir di seluruh rantau dunia dari zaman ke zaman, termasuk perkembangan Islam di Alam Melayu. Tidak kurang pentingnya ialak karya tasawufnya, khususnya Tasawuf Moden, suatu usaha untuk memberikan jawapan islam terhadap masalah-masalah kerohanian manusia moden.

Hamka memang ilmuwan unik yang memberikan perhatian berat kepada pelbagai bidang ilmu yang sangat luas, termasuk khazanah kesusasteraan tradisional seperti karya agung Sejarah Melayu oleh Tun Sri Lanang. Tampaknya Hamka dapat menghargai karya yang oleh kebanyakan ulama dianggap tahyul melulu itu. Seperti yang dinyatakan oleh pengarangnya bahawa teks klasik tersebut mengandungi al-akhbar dan al-amthal (sejarah dan simbol). Di sinilah terserlahnya ketajaman Hamka yang dapat memilih dan memilah mana yang fakta dan mana yang simbol. Di sebalik simbol itulah tersiratnya mesej wisdom kepujanggaan bangsa. Dalam analisisnya tentang kejatuhan Melaka Hamka cuba menafsirkan simbol-simbol yang termuat dalam karya tersebut.

Hamka adalah tokoh Indonesia yang sangat dekat dengan umat di Malaysia. Sempena kemerdekaan Persekutuan Tanah Melayu (1957) beliau menulis buku Kenang-kenanganku di Malaya. Antara kandungan pentingnya ialah keprihatinannya terhadap bahasa Melayu. Memang Hamka adalah agamawan yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap bahasa, khususnya bahasa Melayu. Antara sumbangannya dalam bidang kebahasaan termasuklah perjuangan memurnikan bahasa Melayu dari pencemaran kata-kata asing, dan mempertahankan bunyi-bunyi Melayu yang oleh sesetengah pihak dianggap kearaban.

Umat Malaysia memang mengenali Hamka. Seminar mengenai tokoh ini telah diadakan berkali-kali di pelbagai negeri Malaysia sehingga Pak Rushdi, putera Hamka yang sering hadir mewakili keluarga, pernah mengatakan bahawa beliau lebih banyak mengenal ayahnya di Malaysia berbanding di Indonesia. Mudah-mudahan anak-anak keturunan Minang di Malaysia tidak akan melupakan pesan Buya, "Orang Minang apabila tercabut dari Islam, akan hilang minangnya, yang tinggal hanya kabaunya".

Dr.Ir.Imaduddin Abdul Rahim

Imaduddin Abdul Rahim memiliki keunikan tersendiri. Beliaulah satu-satunya tokoh Indonesia yang mempunyai kader-kader yang ramai di Malaysia. Pada pertengahan tahun-tahun 70'an Ir. dari ITB itu dikirim ke Malaysia dengan tugas rasmi sebagai dosen di Institut Teknologi Kebangsaan (kemudian diangkat menjadi Universiti Teknologi Malaysia). Tetapi sebenarnya beliau dikirim dengan misi istimewa untuk membina kader dakwah. Kepiawaiannya dalam pembinaan kader memang diakui umum. Selama di Malaysia beliau banyak sekali mengadakan pelatihan kader dakwah yang dikenali dengan jenama Latihan Kader Dakwah (LKD) yang kemudian ditukar menjadi Latihan Mujahid Dakwah (LMD). Dalam waktu singkat ramai kalangan mahasiswa yang mengikuti pelatihan tersebut. Kesannya tentu sahaja sangat positif dari segi pengisian femomena kebangkitan Islam dengan kefahaman yang lebih mendalam dan komitmen perjuangan yang lebih kental terutama di kalangan mahasiswa.

Imaduddin banyak menggunakan terapi kejutan yang pada keseluruhannya cukup mengesankan. Bagaimanapun untuk satu ketika timbul juga kesan sampingannya apabila beliau mempromosikan fiqh kaum pembaharu yang sempat menghidupkan semula kontroversi lama "kaum tua-kaum muda". Tetapi hal itu masih dapat dikawal dalam kebijaksaan dasar saling hormat dan saling memaaf ketika berbeza pendapat yang menjadi amalan gerakan Islam khususnya ABIM. Setelah perkhidmatannya di ITK tamat Imaduddin pulang ke Bandung, tetapi dari semasa ke semasa beliau kerap datang ke Malaysia memenuhi undangan pelbagai institusi dan organisasi untuk mengadakan pelatihan dakwah.

Umum mengenali Imaduddin sebagai seorang yang berwatak keras, dan cara berfikirnya seringkali terkesan rasionalis. Citra sedemikian tentu sahaja ada pro-kontranya. Watak dan orientasi pemikiran sedemikian itu tidak pula bererti beliau seorang yang tertutup dan tidak mahu mendengar saran. Justeru sikap rasionalnya menjadikannya bersedia mendengar hujah. Segalanya bergantung kepada kemampuan meyakinkannya dengan hujah yang kuat. Tampaknya latar pendidikan sains-teknik menyebabkan Imad kurang pendedahan kepada bidang-bidang ilmu kemanusiaan dan kemasyarakatan seperti sejarah, kebudayaan, kebahasaan dan kesusasteraan. Kerana itu beliau tidak dapat menghargainya secara saksama. Untungnya, keadaan itu tidak berlarut lama. Ada seseorang yang telah membangkitkan minat beliau terhadap bidang-bidang tersebut. Sejak itu beliau sangat menghargai hakikat betapa kuatnya pengakaran budaya dan bahasa Melayu pada ajaran Islam. Sejak itu juga beliau memasukkan diskusi tentang peranan Islam dalam sejarah dan kebudayaan Melayu ke dalam komponen materi pelatihannya.

Khatimah

Demikianlah jaringan amal Islami pada masa lalu telah membentuk satu umat, membangun sebuah tamadun dan menjayakan suatu kebangkitan keagamaan, the rising tide of Islam. Generasi lalu telah berbuat sesuai dengan keperluan dan kemampuan. Kita pula bagaimana?

Kajang: 14 Syawal 1431H / 24 September 2010.


Sumber : Wadah

Thursday, August 5, 2010

Pameran XPDC Hamka @Perpustakaan Unisel

Bestari Jaya, 4 Ogos 2010 - Grup Pengkaji Tamadun Dunia Unisel kerjasama Institut Kajian Malaysia-Indonesia (IKMI) dan Perpustakaan Unisel BJ telah menganjurkan Pameran XPDC Hamka dan telah dirasmikan oleh Prof Dr Zaidi Hajazi, Pengarah IKMI bertempat di Perpustakaan Unisel BJ. Pameran ini adalah susulan Ekspedisi Meneladani Pemikiran Hamka (XPDC HAMKA) yang berlangsung pada 29 Disember 2009 sehingga 12 Januari 2010. Penganjuran ini bertujuan untuk memperkenalkan ketokohan Hamka sebagai ikon kepada mahasiswa. Turut hadir adalah Tn Hj Ahmad Azam Abdul Rahman, Pengasas GPTD Pusat yang menjadi penceramah dalam slot Pengkisahan Riwayat Hidup Buya Hamka.

"Tahniah kepada GPTD kerana menganjurkan program seumpana ini. Hamka adalah seorang sosialis kerana telah memberi impak besar kepada masyarakat bukan sahaja di Indonesia malah diseluruh rantau Melayu", antara isi ucapan perasmian oleh Prof Dr Zaidi Hajazi.

Friday, July 16, 2010

Mahasiswa kreatif bantu jayakan pameran Xpdc Hamka

Bestari Jaya, 16 Julai 2010 - Dua orang mahasiswa Multimedia dari Fakulti Industri Teknologi Maklumat telah bersetuju untuk bantu terlibat di dalam Pameran XPDC HAMKA yang akan berlangsung di Perpustakaan Unisel pada 2-20 Ogos 2010. Mahasiswa terbabit adalah Nazrul Niza Bin Ahmad Naseri dan Mohd Ashrani Bin Abu Talib yang ditugaskan sebagai Pereka Grafik merekabentuk bahan pameran dan menyunting dokumentari XPDC HAMKA selama 15 hari di Sumatera Barat, Indonesia pada awal tahun ini.

Perbincangan dan gerak kerja telah bermula dengan pertemuan secara rasmi bersama Setiausaha, Sdri Hdariyani Kampun. Insya Allah suara latar bagi melaporkan dokumentari adalah Sdri Hdariyani sendiri kerana beliau turut terlibat dalam XPDC HAMKA tersebut. Pertemuan bersama Hjh Fauziah, Ketua Perpustakaan akan dilaksanakan pada minggu hadapan bagi membentangkan konsep pameran.

Related Posts with Thumbnails